Education

 

RUBRIK

Pendidikan

JUDUL

Membangun Asa di Negeri Jiran

EDISI

15 tahun 20

TANGGAL

15 Pebruari 2014

PENGANTAR

Sekolah Induk Kota Kinabalu berdiri guna memenuhi hak pendidikan bagi 45.000 anak WNI di Sabah, Malaysia. Dari jumlah itu, baru 45% yang dijangkau Kemendikbud. Lebih dari separuhnya belum mengenyam pendidikan yang layak.

published at GATRA Weekly News Magazine

 

Keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk belajar dan meraih kesuksesan. Itulah spirit yang selalu digelorakan oleh para pengajar siswa Indonesia di Kota Kinabalu selama kurun lima tahun ini. Berbekal Surat Keputusan Mendiknas Nomor 094/O/2008 tentang Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), berdirilah Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).

 

Namun, keberadaan SIKK berbeda jauh dari SILN. Sebab, SILN didirikan untuk melayani pendidikan bagi anak-anak diplomat dan warga negara yang bekerja di sektor formal. “Sedangkan SIKK dibangun untuk anak-anak WNI yang tidak bisa bersekolah di sekolah lokal pemerintah Malaysia karena masalah dokumen pada anak-anak itu,” kata Dadang Hermawan, Kepala SIKK, kepada Adistya Prabawati dari Gatra.

 

Selain itu, biaya sekolah di Malaysia cukup mahal. Di sekolah swasta, biaya per bulannya mencapai RM 400-RM 500 atau sekitar Rp 1.350.000 sampai Rp 1.800.000. Sedangkan untuk siswa asing yang belajar di sekolah kerajaan, dikenai biaya sekitar Rp 300.000 sampai Rp 500.000 per bulan.

 

Kebijakan pemerintah Malaysia yang tidak membenarkan tenaga kerja Indonesia (TKI) di sektor informal, seperti perladangan, perkebunan, rumah makan, dan pabrik-pabrik, untuk membawa keluarga, semakin memperparah kondisi pendidikan anak-anak WNI di Sabah. Jumlah anak-anak WNI di rentang usia sekolah lebih dari 56.000 jiwa. Dari jumlah itu, uang terlayani pendidikannya baru sekitar 40%-45%.

 

Sejak 2008 sampai 22 Desember 2013, untuk melayani kebutuhan pendidikan anak-anak, Pemerintah Indonesia menyewa ruko di Alamesra Plaza Utama, di Kinabalu. Ruko dengan delapan ruang belajar, sebuah aula dan satu ruang guru itu menampung 20 kelompok belajar ditambah 3 kelas SMP terbuka. “Sungguh tidak layak. Bahkan agar proses belajar mengajar berjalan, manajemen sekolah menerapkan sistem belajar on-off. Seminggu hanya 3 hari belajar secara bergantian,” ungkap Dadang.

 

Untuk anak-anak yang tidak tertampung di SIKK, papar Dadang, pembelajaran dilakukan melalui community learning center (CLC), seperti SMP terbuka. Sekolah berlangsung tiap Sabtu dan Minggu dengan jam pelajaran hingga malam hari. Karena lahan yang sangat terbatas, tidak jarang lorong-lorong jalan di plaza itu dimanfaatkan untuk kegiatan olahraga. “Lalu jembatan penyeberangan di tingkat satu kami pakai untuk kegiatan pengayaan materi,” kata Dadang.

 

Kualitas prasarana sekolah, menurut Dadang bisa di bagi dua. Untuk di sekitar ladang sawit banyak memakai gedung permanen dan semi permanen. Sedangkan yang di luar ladang, kondisinya lebih memprihatinkan. Satu ruangan yang disewa dari penduduk lokal bisa diisi oleh 85 siswa.

 

Perhatian pemerintah, tambah Dadang, dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat, seiring dengan adanya dana bantuan operasional sekolah (BOS), bantuan operasional pendidikan (BOP), bantuan siswa miskin (BSM), dan bantuan buku-buku modul ke CLC yang berasal dari Direktorat Pembinaan SMP Kemendikbud.

 

Dari aspek kemampuan peserta didik, keadaannya sangat beragam. Banyak di antara mereka yang tidak atau terlambat bersekolah, sehingga mengalami kesulitan saat mulai belajar. Bahkan ada siswa berumur 19 tahun yang masih duduk di bangku SMP.

 

“Keterbatasan guru juga memberi kontribusi pada kompetensi siswa yang masih di bawah standar,” kata Dadang. Untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan mengatasi keterbatasan guru, Kemendikbud pada 2013 mengirimkan materi pembelajaran berbentuk compac disc (CD) sebagai bahan penunjang di CLC-CLC. Kemendikbud juga memberikan fasilitas modem untuk koneksi internet, guna mengunduh materi pembelajaran siswa di Kemendikbud.

 

CLC juga mendapatkan bantuan dari NGO Humana dari Denmark. Dalam layanan pendidikan kategori 3M, yakni: menulis, membaca dan menghitung, CLC memakai sarana pendidikan yang paginya digunakan oleh NGO Humana.

 

Guna mengapreasiasi kerja para guru dan karya siswa dari CLC, sejak tiga tahun lalu SIKK sebagai sekolah induk menggelar lomba pengetahuan, kreasi seni, dan olahraga yang diikuti 400 peserta perwakilan se-Sabah. Untuk lomba selama 3 hari, siswa mengikuti 12 materi lomba dari baris berbaris, pidato bahasa Indonesia, story telling, melukis, cerdas cermat, futsal, bulu tangkis, tenis mesja, sepak takraw, menyanyi, menari, dan ketrampilan.

 

Dinamika dan antusiasme yang meningkat dari anak-anak WNI di Sabah, akhirnya mendorong Kemendikbud untuk mendirikan gedung SIKK yang memadai. Terhitung sejak awal Januari 2014 lalu aktivitas SIKK tidak lagi di ruko-ruko, tapi di kompleks gedung yang berdiri di lahan seluas 1,6 hektare. Bangunannya terdiri dari 18 kelas, empat laboratorium, dua lapangan bulu tangkis dan sebuah aula futsal, serta kantin dan masjid. Ada pula gedung kantor dan lima rumah guru.

 

Sekolah itu menjadi salah satu gedung termegah Kemendikbud di negeri orang, yang diperuntukkan bagi para anak-anak perantauan yang kurang beruntung. “Sepengetahuan kami tidak ada satu negara pun yang membangun sekolah khusus di negeri orang untuk warganya sendiri dengan didanai seluruhnya oleh pemerintah,” kata Dadang. Sampai kini, biaya operasional pendidikan di SIKK bersumber dari dana Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kemendikbud.

 

Dengan demikian, biaya pendidikan bagi seluruh siswa termasuk buku bersifat gratis. Untuk meningkatkan peran SIKK membina 128 CLC di pelosok-pelosok Sabah, ke depan masih dibutuhkan bahan ajar digital dan infrastruktur server yang menjadi bank data. Infrastruktur tersebut ditujukan sebagai pembelajaran digital yang nantinya bisa diakses oleh SLC di seluruh wilayah ladang-ladang sawit.

 

Keberadaan SIKK, menurut pengamat pendidikan Arief Rahman, merupakan jawaban konkret atas kendala sistem dan aturan pendidikan Malaysia terhadap anak-anak WNI. “Kebijakan itu hak mereka, tapi kita juga diberikan kesempatan untuk mendirikan sekolah sendiri. Itu suatu yang sangat menguntungkan,” katanya.

 

Selain itu, sekolah Indonesia di luar negeri akan membantu para anak didik saat mereka pulang ke Indonesia dan melanjutkan ke perguruan tinggi. “Mereka sudah memiliki kompetensi sesuai dengan standar dan kurikulum Indonesia,” kata Arief.

 

Menurut Direktur Pengembangan Pendidikan Dasar Kemendikbud, Didik Suhardi, keberadaan SIKK adalah untuk menjawab program wajib belajar 9 tahun. Selain itu sebagai jawaban atas rendahnya kemampuan keuangan orangtua anak-anak WNI, dan sistem pendidikan Malaysia yang tidak suportif kepada anak-anak WNI. Berdasarkan data di Kemendikbud, setidaknya ada sekitar 25.000 anak TKI yang belum bergabung dengan SIKK. “Oleh sebab itu, kita masih berusaha menyebar CLC baru di kantong-kantong tempat anak-anak berada,” katanya.

 

Untuk pengadaan tenaga pengajar di CLC yang disebut guru pamong dan di SIKK yang disebut guru bina, selain menggunakan tenaga lokal, Kemendikbud mengirimkan guru dari Indonesia. Lalu pada Juni 2014, Kemendikbud berencana membuka jenjang pendidikan setara SMA di SIKK. “Pendidikan paket C di CLC ini untuk menampung siswa yang sudah lulus SMP,” ujar Didik.

 

Pada 2013 lalu, sudah ada siswa SIKK yang masuk SMA. “Mereka diambil Pertamina Foundation dan disekolahkan di Indonesia,” kata Didik. Ada 22 orang lulusan SMP yang melanjutkan sekolah di Indonesia dan dimasukkan ke pesantren di perbatasan Indonesia-Malaysia. Melihat semangat besar dari anak-anak TKI di Sabah, Kemendikbud pun berencana membangun sekolah lagi, di Tawau, Sabah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s