environment

(unpublished-version, the published version can be read on GATRA Weekly News Magazine printed 26 April 2014)

Berdasarkan rilis yang dikeluarkan oleh WWF tahun lalu, tim monitoring WWFIndonesia dikabarkan menemukan jejak segar yang mirip jejak badak saat melakukan monitoring orangutan di Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur, yang juga merupakan wilayah Heart of Borneo pada akhir Januari 2013.. Untuk menguatkan bukti temuan tersebut, WWF-Indonesia bersama Dinas Kehutanan Kubar, Universitas Mulawarman dan masyarakat setempat, melakukan survei lanjutan pada Februari 2013. Hasilnya, tim survei menemukan beberapa jejak kaki badak, bekas kubangan, bekas gesekan tubuh badak pada pohon, gesekan cula pada dinding kubangan serta bekas gigitan dan pelintiran pada pucuk tanaman. Tim survei juga mengidentifikasi adanya ketersediaan pakan badak yang berlimpah dan bervariasi, lebih dari 30 spesies tumbuhan pakan.

Temuan ini membawa angin segar bagi dunia konservasi nasional dan internasional, mengingat keberadaan Badak Sumatera di Kalimantan sudah tidak pernah terdengar dan diketahui keberadaanya bahkan ditengarai telah punah sejak tahun 1990-an. IUCN (International Union for Conservation of Nature) telah mengklasifikasikan Badak Sumatera ini dalam kategori kritis (Critically Endangered).

*

Mendapat kabar dari pulau Kalimantan soal penemuan jejak Badak, Iwan Setiawan, peneliti Badak WWF- Indonesia langsung berangkat ke Sendawar, Kutai Barat, Kalimantan Timur untuk mengecek langsung berita tersebut. Baru pada akhir Febuari 2013 survey identifikasi jejak badak dilakukan.

Dua jejak ditemukan. Umur baru sekitar sepuluh hari. Berdekatan dan teridentifikasi sebagai jejak kaki depan dan kaki belakang badak. “kalau dilihat dari sisi habitat, baik kubangan air, pakan, kelimpahan, berdasarkan temuan-temuan yang ada lokasi ini cukup ideal untuk habitat badak”, jelasnya. Hanya saja, kanopi hutan lebih tertutup dibanding habitat Badak di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), lokasi konservasi alam untuk badak jawa.

Selain tapak, Iwan dan timnya juga menemukan jejak berupa bekas gesekan badan, memperkuat data survey. Dari hasil survey pertama ini, “yang perlu ditindaklanjuti adalah pemasangan kamera untuk memperkuat, melakukan survey di lokasi lain”, kata Iwan seperti dalam rilis video dokumentasi proses survey.

*

Berdasarkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora ) tiga dari lima spesies badak di dunia berada dalam level “critical endangered”, dua diantaranya di Indonesia, yakni badak jawa dan badak sumatera. Menurut rhinosourcecenter.com, populasi badak sumatera tinggal 275 individu, sementara badak jawa jauh lebih sedikit, sekitar 50an individu.

Rilis yang dikeluarkan oleh WWF tanggal 2 Oktober 2013 mengungkapkan bahwa aktivitas badak sumatera terekam di kamera trap yang terpasang di enam belas titik. Ini kali pertama badak tersebut tertangkap secara visual. Seperti dikutip dalam rilis tersebut, menteri kehutanan, Zulkifli Hasan mengatakan, hasil temuan ini diharapkan dapat mendongkrak target penaikan populasi badak 3 persen per tahun.

Dalam rilis tersebut dijelaskan tertangkap gambarnya, badak sumatera sedang berkubang di lumpur untuk menjaga temperatur badannya agar tetap dingin dan seekor badak sumatera sedang berjalan mencari makan. Gambar-gambar aktivitas badak ini masing-masing tertangkap pada 23 Juni, 30 Juni, dan 3 Agustus 2014.

Temuan badak sumatera di Kalimantan Timur tentu sangat memberi angin segar. Dalam survey pertama, penemuan tanda-tanda yang lebih banyak dari badak seperti kubangan, bekas pakan, kotoran menunjukkan bahwa survey berbuah positif. Setelah itu, langsung dipasang beberapa kamera (sekitar belasan kamera) karbon, yaitu bukan kamera khusus untuk melacak badak. Kamera dipasang di beberapa lokasi dimana disitu ditemukan jejak dan kubangan.

Setelah enam bulan, sekitar bulan Juni-Juli 2013, tim konservasi berhasil merekam aktivitas badak. Badak yang ditemukan adalah badak sumatera namun berbeda subspesies. Di Sumatera subspesiesnya dicerorhinus sumatrensis sumatrensis, sedang di Kalimantan Timur dicerorhinus sumatrensis harrissoni.

Perbedaannya, menurut Iwan, pada bentuk fisik. Badak Kalimantan ukuran badannya lebih kecil dan bulunya lebih lebat. “Seluruh tubuhnya bulunya lebih lebat”, jelas Iwan. Culanya ada dua dan lebih mendekati dengan Badak di Sabah, Malaysia. Persebarannya dari Sumatera, Kalimantan, sampai kaki Gunung Himalaya.

Badak tersebut tidak ditemukan bukan di kawasan taman nasional tetapi di dalam kawasan HPH, beruntung masih di kawasan hutan lindungnya,”makanya masih cukup kondusif”, kata Iwan. Hanya saja, sejauh ini, dengan jangka waktu pemantaun lebih dari satu tahun, baru dua individu yang ditemukan, dan dua-duanya betina. Dari dua perbedaan cula itu yang mengidentifikasi keduanya. “Sampai saat ini kantong jantannya belum ketemu”, kata Iwan. Hal ini tentu mengkhawatirkan untuk proses konservasi dan manajemen populasi.

Iwan bercerita, upaya konservasi ini lebih banyak memberdayakan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. “Karena mereka adalah ujung tombaknya (upaya konservasi)”, katanya. Selain itu, petugas dari pemprov Kalimantan timur, perusahaan, dan petugas dari Dinas Kehutanan juga turut membantu mengembangkan upaya konservasi badak Dalam hal ini, berbagai pihak tersebut telah mendapatkan pelatihan dasar upaya konservasi dengan pelatihan pemasangan kamera trap, identifikasi jejak badak, dan sebagainya. “kemarin baru dilatih di Wak Kambas, dan kini mereka terus melakukan survey lanjutan”, jelas Iwan.

*

Kontur habitat badak di Kaltim cenderung lebih berbukit, berbeda dengan di TNUK yang lebih datar. Menurut Iwan, memang ada areal terbuka, tapi badak disana cenderung bergerak di punggungan-punggungan dengan vegetasi yang lebih rapat. “Kalau rapat (vegetasinya) kan keragaman jenis pakannya berkurang”, jelasnya. Dari hasil survey, Iwan mengatakan ragam pakan badak di habitatnya tersebut hanya sekitar 30-50 jenis yang benar-benar sudah teridentifikasi dapat makan.

Kebanyakan jenis tumbuhan medang-medangan. Baik badak sumatera maupun badak jawa, suka dengan tanaman yang bergetah”, ujarnya. Baik badak sumatera yang di Kalimantan maupun di Sumatra dan badak jawa sama-sama browser, yakni pemakan ranting, kulit pohon, daun-daunan. Persoalannya, jika vegetasi yang tumbuh terlampau tinggi, badak tidak bisa memperoleh makanannya.

Menurut Iwan, habitat yang cocok untuk badak sebenarnya dalah wilayah semak belukar untuk pakan karena tidak mungkin merobohkan pohon untuk mengambil makan. “Walaupun tetap membutuhkan hutan untuk berlindung”, jelasnya. Jika di daerah semak belukar, lebih banyak varian pakannya, dan lebih mudah diperoleh.

Artinya, habitat badak harus bisa memenuhi kebutuhannya untuk tempat tinggal, tempat makan, kubangan, sumber air, dan sumber mineral. Untuk mendapatkan mineral, badak bisa memperolehnya di tumbuhan, juga melakukan salt licking di danau atau atau kolam yang mengandung garam, dan beberapa kasus badak memakan tanah, “dijilat atau dimakan langsung”, kata Iwan. Kegiatan salt-licking ini sebenarnya tak hanya dilakukan oleh badak karena pada dasarnya semua binatang membutuhkan mineral.

*

Konservasi Badak

Spesies badak yang hidup di wilayah Indonesia berada dalam level “critical endangered”. Maka upaya konservasi menjadi lebih serius digalakkan. Beberapa upaya kini tengah dirintis oleh para aktivis dan ahli badak untuk menjauhkan badak dari kepunahan.

Elisabeth Purastuti, Project Leader WWF- Indonesia Ujung Kulon menceritakan bahwa konsolidasi para aktivis badak dunia diawali dari sebuah pertemuan internasional di Singapura pada awal tahun 2013, yang membicarakan tentang kondisi Badak Sumatera. Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa perlu upaya konservasi lebih serius, karena kondisi Badak sudah semakin kritis. Kemudian, “kita perlu tahu data kondisi Badak seperti apa, untuk menangani kondisi kritis ini”, jelas Elis. Maka dari itu, perlu dilakukan manajemen populasi, agar tidak semakin menurun jumlahnya.

Lalu pada Oktober 2013, ada pertemuan ASEAN Rhino Range State Meeting dimana disitu ada empat negara dimana wilayah negaranya ada yang menjadi habitat Badak, yakni Indonesia, Malysia, India, dan Nepal, berkumpul diwakili masing-masing Kementrian Kehutanannya. “Kesimpulannya, Badak Sumatera dianggap genting karena populasinya menurun terus”, kata Elis.

Kemudian dilakukan lagi pertemuan di Way Kambas, Way Kanan lebih khusus terkait Badak Sumatra. Pertemuan ini membahas bagaimana membuat survey yang tepat dan dapat dikomparasikan dengan habitat lain. Sekarang habitat Badak Sumatera berada di bagian utara, di Taman Nasional Gunung Leuser (Kawasan Ekosistem Gunung Leuser), satunya lagi di Lampung di Taman Nasional Way Kambas. Padahal sebelumnya, tersebar di seluruh Sumatra. Terakhir di TNKS, baru setelah itu, dinyatakan Badak tinggal ada di ujung utara dan ujung selatan. “Artinya kelihatan sekali, dari kantong populasinya saja banyak yang hilang”, jelasnya.

Sementara itu, keadaan berbalik dengan Badak Jawa. Awalnya, populasi hanya sekitar 25 individu sebelum kemudian meningkat menjadi 50an individu. Tetapi, selama 30 tahun terakhir ini, angkanya stabil di 50-60 individu saja. Sex ratio juga tidak seimbang. Perbandingan betina dengan jantan 2:3, “jadi usaha jantan untuk kawin cenderung berkelahi”, kata Elis.

Mengapa tidak bertambah, karena kapasitas untuk TNUK mungkin hanya cukup untuk sekitar 50-60an individu saja. Bisa jadi juga karena variasi genetiknya rendah sehingga ketika mereka akan berkembang biak terhambat. “jadi masalah di TNUK satu populasi di satu tempat saja”, kata Elis.

”Maka dari itu, kita berkumpul bersama untuk membahas bagaimana metode baku melakukan survey”, jelas Elis. Sesudah itu, kemudian dilakukan beberapa kali pertemuan untuk membahas metode ini. Diharapkan, dengan penyusunan pedoman ini, bisa dimanfaatkan untuk para pihak yang melakukan survey Badak di Indonesia.

Pertemuan terakhir dilakukan di Bogor. Disini ada tema baru, membahas penggunaan pesawat drones untuk pemantauan populasi Badak. Walaupun setelah uji coba, pesawat drones dianggap sulit untuk mendeteksi individu Badak, karena Badak di dalam hutan dan tertutup kanopi, tidak dapat dipantau dari udara. Tetapi, menurut Elis, pesawat drones dapat berfungsi untuk manajemen habitat, memantau satwa lain yang juga menjadi pesaingnya, “seperti di Ujung Kulon, ada Banteng yang menjadi pesaing Badak dalam hal ruang”, katanya.

Badak jawa populasi hanya ada di Ujung Kulon di dunia ini. “Seperti kalau kita punya telur, kalau kita menaruh di satu keranjang, kalau terjadi apa-apa dengan keranjang itu, akan pecah semua, kecuali kalau menaruhnya di beberapa keranjang lain”, Elis mengumpamakan. Hal ini serupa dengan Badak Jawa. Maka, upaya konservasi lain dengan merintis habitat kedua (second habitat). Dia menambahkan, pesawat drones juga memungkinkan untuk dipakai saat pemantauan kelayakan second habitat ini. Pesawat drones dapat digunakan untuk melakukan survey untuk kandidat second habitat, kendalanya apa juga bisa dipantau”, kata Elis.

Terakhir, Elis mengatakan bahwa ke depan akan ada wadah untuk para konservator Badak agar bisa terus berdiskusi bersama untuk upaya konservasi. Disini WWF bekerjasama langsung dengan YABBI.

*

Manajemen Populasi dan Monitoring Badak Jawa di Ujung Kulon

Manajemen habitat dan monitoring sangat penting dalam upaya manajemen populasi badak. Maka dari itu, pengelolaannya tak hanya langsung dengan badak tetapi juga dengan berbagai unsur pendukung kehidupan badak.

Iwan Irawan, ahli Badak WWF- Indonesia menggagas camera trap sebanyak 120 dari WWF mulai tahun 2013 dikelola oleh TNUK. “Sebelumnya dikelola oleh WWF”, katanya. Camera trap tersebut dipindahkelolakan ke pemerintah dalam hal ini TNUK karena sudah siap secara anggaran. Berkat monitoring dengan kamera trap, individu Badak lebih banyak yang ditemukan.

Selain dengan camera trap juga dengan identifikasi DNA. Untuk melihat garis keturunan keluarga dan pembeda per individu , misalnya dengan metode identifikasi fisik melalui hasil video dari camera trap. “Ini lebih difungsikan untuk membedakan satu individu dengan yang lain”, jelas Iwan. Untuk identifikasi individu dapat dilihat perbedaannya dari leher ke kepala, misalnya melalui lingkar mata, lekuk leher, cula, dan kuping.

Selain itu, eradikasi langkap. Langkap dianggap invasif karena mengandung zat alelopat yang diduga mengganggu pertumbuhan tanaman lain sebagai pakan Badak. Ada lagi tanaman bernama Lantana yang bisa menjadi racun kalau terlalu banyak.

Upaya lain menjaga ekosistem habitat Badak agar tetap harmonis dengan penggembalaan. Misalnya melakukan perawatan di habitat banteng di padang rumput agar tidak tumbuh menjadi semak belukar. Sebab jika menjadi semak belukar akan membuat banteng kekurangan makanan lalu masuk ke hutan. Bahkan bisa jadi pesaing di makan dengan Badak menjadi browser (pemakan ranting, daun, kulit batang pohon).”apalagi tidak ada predator Banteng di Ujung Kulon”, kata Iwan.

*

Second Habitat

WWF, TNUK, Kementrian Kehutanan dan beberapa stakholder lain sudah melakukan survey di Jawa Barat. Upaya ini menurut Elis sudah dilakukan sejak lima tahun belakangan. Ada beberapa kandidat wilayah, untuk sementara ini kandidat paling cocok di Cikepu, Jawa Barat, dekat dengan Pelabuhan Ratu. Tetapi perlu assessment lain. Tidak hanya kecocokan habitat, tetapi juga ketersediaan air sepanjang tahun harus ada, karena dibutuhkan Badak untuk minum, berkubang. Dari segi keamanan, potensi penyakit, dan sebagainya.

Tim tersebut telah melakukan survey ke beberapa lokasi yang dianggap sesuai untuk habitat Badak. Lokasi tersebut yakni Leuweung Sancang di Garut, Cikepu di dekat Pelabuhan Ratu, Gunung Kendeng, Cibaliung, Rawa Danau, Gunung Halimun. Sampai saat ini yang paling mendekati adalah Cikepu. Tetapi itupun belum final.

Pertimbangannya, dari jarak cukup dekat dengan Ujung Kulon, pakan juga cukup memadahi, sumber air juga memadahi, dan kubangan. Tetapi dari sisi luasan, di Cikepu kurang dari 10ribu hektar, hanya antara 8ribu – 9ribu hektar. “Perlu dipikirkan untuk memperluas areal itu”, kata Iwan. Menurutnya, kebutuhan minimal, sekitar 10ribu hektar. Karena misalnya TNUK, pergerakan rata-rata 2 kilometer per hari. Untuk betina daya jelajah 10 km persegi, jantan mencapai 20 km persegi. Sehingga, idealnya setiap individu Badak diberi ruang hingga 100 hektar.

Hasil survey populasi terakhir di tahun 2013 sebanyak minimal 58 ekor. Belum jelas berapa jumlah yang akan direlokasi ke second habitat. Tetapi, menurut Iwan, harus individu yang sehat, atau secara genetis tidak ada kekerabatan dekat, “karena ditakutkan kalau kekerabatan dekat akn mengurangi kualitas genetisnya”, kata Iwan.

Dikhawatirkan dengan incest atau in breeding kualitas akan turun. “Ini juga salah satu ancaman terhadap kepunahan Badak”, jelas Iwan. Tidak hanya dari sisi habitat, perburuan, tetapi kualitas individu menentukan faktor kepunahan.Incest berpotensi menghasilkan bayi Badak yang cacat, rentan sakit, dan sebagainya. Walaupun ini masih menjadi asumsi yang belum dibuktikan, walau akhir-akhir ini ditemukan bayi Badak yang cacat dan diindikasikan karena inbreeding.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s