Features

(full version at GATRA Weekly News Magazine printed on 25th Januari 2014)

Film Biopic Politisi

Film biopic politisi merupakan gejala baru dunia sinema Indonesia di tahun politik 2014 ini. Para politisi yang punya rencana mencalonkan diri menjadi presiden nanti mulai terdengar siap-siap meluncurkan drama terbaik dari sepanjang hidup mereka untuk dibagikan kepada khalayak yang notabene adalah para calon pemilih melalui media film.

Sebut saja Dahlan Iskan dan Jusuf Kalla yang bergandengan dengan Mizan Production untuk membuat film berdasarkan secuil kisah nyata yang pernah mereka alami dimasa perjuangan menuju kejayaannya sekarang. Atau Wiranto dan Hari Tanoe yang – kalau bisa dikatakan – berduet dalam sebuah film yang rencana akan digarap oleh Lukman Sardi. Ada lagi Mahfud MD, menggandeng sutradara berpengalaman banyak dalam produksi film biopik, Hanung Bramantyo.

Abu Rizal Bakrie (ARB) juga dikatakan ingin membuat film biopiknya. Salman Aristo, penulis skenario asal Indonesia, dikabarkan sempat akan digandeng untuk untuk produksi film ini. Kabar soal Abu Rizal Bakrie sangat tidak benar”, katanya serta merta menampik.

Walau demikian, Salman sebenarnya melihat gejala kemunculan tren film biopik ini sangat wajar. “Wajar sekali. Ini tipe film yang biasa ada di industri film mana pun”, jelasnya. Salman melihat di Indonesia nampaknya baru, tetapi sebenarnya karena industrinya memang baru berkembang lagi. Kartini, Tjut Nyak Dien dan lainnya bisa jadi contoh era film biopik lama.

Dia mengaku tak mencicipi “lalulintas” penawaran dan permintaan yang terjadi di proses cerita biopik politisi yang naik permintaannya pra Pemilu. “Tidak pernah sampai ke saya dengan detil yang politik begini. Jadi kurang tahu dengan baik”, terangnya. Tetapi Salman bertutur pernah ditawari untuk ikut membuat film tentang 1998 walau tak terkait langsung dengan salah satu politis, Wiranto.”Itu pun sudah saya tolak dari meeting pertama. Tidak cocok waktu dan lainnya”, jelasnya.

***

sementara itu, Deden Ridwan nampak sumringah menerima GATRA di kantor NouraBooks salah satu anak dari grup Mizan publishing yang beralamat di jalan Jagakarsa Raya no. 40 Jakarta Selatan. Mengenakan kemeja biru, dengan kacamata, kostum Deden mencerminkan posisinya sebagai seorang CEO dari penerbit Nourabooks ini.

Deden nampak sumringah karena akan segera menyelesaikan project-nya menggarap film adaptasi novel soal cuplikan bagian dari masa hidup Dahlan Iskan berjudul Sepatu Dahlan. “Saat ini sudah proses editing video”, katanya.

Tanggal lahir ditulis dilemari, saat lemari terjual, Dahlan dewasa bertutur pada Khrisna Pabicara sang penulis novel, “tanggal lahir saya terjual, jadi hilang, yasudah biar gampang 17 Agustus saja”, kelakar Deden.itu adalah sedikit cerita Deden soal proses kreatif penyusunan novel Sepatu Dahlan yang akan dirilis filmnya segera tahun 2014 ini.

Tak main-main, film dari Mizan Production ini mengajak Benni Setiawan untuk menjadi penulis skenario merangkap sutradara. Benni sebelumnya telah berhasil memuaskan Mizan dengan film garapannya, Laskar Pelangi 2: Edensor.

Sepatu Dahlan siap dirilis bulan Maret 2014 nampak sangat pas dengan momentum Pilpres sebulan setelahnya. Tapi, Deden mengelak bahwa film ini memang dibuat untuk menyambut kampanye Pilpres. Apalagi sekarang Dahlan sedang moncer sebagai pemegang suara terbanyak dari semua peserta Konvensi Demokrat.

Deden menjelaskan, pada awalnya ide pembuatan film Sepatu Dahlan dari novel. Ternyata, memang hampir jadi tradisi Mizan membuat rencana sepaket dari membuat buku lalu men-filmkannya. Belajar dari film Laskar Pelangi yang laris keras, maka tak ada salahnya jika kesuksesan itu coba diciptakan menjadi salah satu platform pengembangan bisnis Mizan. Deden sendiri menjelaskan ini sebagai hasil dari proses kreatif. “Saya tidak melihatnya secara politis, tetapi sebagai peluang bisnis”, katanya.

Walaupun, menurut Deden, dampak politik akan selalu ada. “dan tidak bisa dipungkiri kalau tren film sebagai kampanye bisa saja terjadi”, katanya. Inilah alasan mengapa Deden mengaku didatangi politisi untuk dibuatkan film (walau Deden tidak menyebutkan nama politisi tersebut).

Hal penting kedua adalah, pembuatan film ini, “bukan by request Pak Dahlan”, kata Deden. Ide pembuatan buku yang kemudian divisualisasikan dalam bentuk film ini murni dicetuskan olehnya setelah terinsipirasi oleh kisah masa kecil Dahlan. “Tidak punya sepatu, miskin, dan sebagainya”. Deden melihat kisah hidup Dahlan kecil adalah sebuah cerita epik. “Penuh perjuangan dan bisa menjadi inspirasi”, katanya.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Dahlan memberikan respon positif dan mendukung penuh proyek buku-film yang akan digarap oleh Mizan ini. Tetapi, seperti dijelaskan Deden, Dahlan tak intervensi sedikitpun. “Ini karya seni, silakan saja”, kata Deden menirukan Dahlan. Deden sudah bersiap, jika buku meledak penjualannya, film siap digarap.

Benar saja, buku Sepatu Dahlan laku hingga 100 ribu eksemplar dalam waktu 6 bulan. Maka, Deden tak ragu untuk segera melakukan proyek filmnya. Namun, sebab beberapa masalah seperti tarik ulur investornya, ada investor mundur dan mencari lagi, pun kendala teknis lainnya, development project baru mulai di bulan Maret 2013.

Target penonton film ini dari pembaca buku Dahlan, yang kini berjumlah sekitar 150ribu, disebut oleh Deden sebagai captivated market (pasar yang pasti menonton),”Ini berdasarkan pengalaman kita sebelumnya”, jelasnya. Kemudian, simpatisan Dahlan alias Dahlanis dianggap sebagai potential market. Potensial market selanjutnya adalah keluarga, karena film ini bergenre Semua Umur dan film Keluarga. Sepatu Dahlan, akan dibuat mirip dengan novel dimana cerita yang diangkat adalah masa Dahlan SD. Maka dari itu, Deden tak takut film tak akan laris karena isu politis.

Menurut Deden, hal yang menarik dari film ini adalah pada cara keluarga Dahlan membentuk jati diri Dahlan masa kini. “miskin bermartabat, tapi kalau sudah kaya bermartabat”, ujarnya. Film ini bercerita,“Bagaimana di masa kecil dia (Dahlan) ikut kumpulan pesantren, bagaimana dia belajar nilai hidup, kesederhanaan yang tergambar dari kemiskinan”, jelas Deden. Dahlan pun sempat meneteskan air mata ketika datang ke lokasi shooting untuk penutupan proses pengambilan gambar. “Katanya kasur, rumah, dipan yang kami buat mirip dengan aslinya saat dia hidup waktu kecil”, ceritanya.

Setelah development project kelar di bulan Juli 2013, proses praproduksi dimulai sampai Oktober 2013. baru November- Desember 2013 shooting dilaksanakan dan kini proses pascaproduksi. Pengambilan gambar dilakukan di tiga tempat, Magetan, Kediri, dan Madiun. Rencana rilis film Sepatu Dahlan diakui molor jauh dari target yang seharusnya, yaitu tahun 2012 karena banyak kendala teknis. Hal ini pula yang menurut Deden menguatkan alasannya bahwa produksi film Dahlan tak ada hubungan hal yang bersifat politis.

Ada juga rencana produksi film Jusuf Kalla berdasarkan novel kisah nyata JK juga berjudul Athirah. Film ini juga akan ditangani oleh Mizan Production diproduseri oleh Putut Wijanarko. Namun, Putut masih enggan membagikan informasi seputar film sebab masih dalam proses pembicaraan. Deden mengamini hal ini. Sampai saat ini belum ditentukan siapa yang akan memegang posisi sutradara. “Masih wacana, tetapi sama, dari awal penulisan buku nanti akan difilmkan”, jelas Deden.

Sedikit bocoran, film Jusuf Kalla seperti dituturkan Deden tak akan berbeda dengan cerita bukunya. “Tapi nanti fokusnya lebih ke ibunya bukan Pak Jusuf Kalla”, katanya. Cerita film JK akan lebih bergenre drama keluarga. “Ada poligami, ibunya (ibunda JK) yang bangkit setelah menjadi korban poligami”, terang Deden. Film ini akan mengambil plot waktu JK masih kecil hingga SMA. “Sampai awal-awal dia menjadi aktivis”, jelas Deden.

Deden mencontohkan film lain yang juga sedang dalam proses produksi, yaitu, pelatih timnas Indonesia, Indra Syajfri juga sedang dibuat filmnya, karena menurut Deden, “orang Indonesia senang dengan film yang menginspirasi”. Dan sekali lagi, jika apa yang dilakukan Deden dan kawan-kawan membuat politisi terinspirasi untuk membuat film sebagai media kampanye, “ya silakan, tapi itu urusan lain”, katanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s