Features

RUBRIK

Ragam

JUDUL

Diaspora Indonesia: Cerita Sukses dari Tanah Rantau

EDISI

43 tahun 19

TANGGAL

31 Agustus 2013

PENGANTAR

Belum lama ini, Kementerian Luar Negeri menggelar perhelatan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah negeri. Mereka mengundang para perantau dan keturunan perantau yang mukim di negeri orang untuk berkongres. Niatnya memang seperti telah dilakukan negara lain, seperti India dan Cina, yakni menarik kaum diaspora yang umumnya sukses di negeri orang itu untuk berkiprah di Indonesia. Kongres bertajuk “Pulang Kampung” itu melahirkan tiga rekomendasi yang intinya: membentuk jejaring diaspora Indonesia di tataran global, mendirikan kantor berbadan hukum di Jakarta untuk mengurus kepentingan diaspora, dan melaksanakan kongres diaspora Indonesia setiap dua tahun.

(full version at GATRA Weekly News Magazine printed on 31st Agustus 2013)

ย 

Johnny Harjantho Pengusaha Taksi Singapura

Johnny Harjantho lahir di Medan, 55 tahun lalu. Seorang Indonesia keturunan Tionghoa yang sukses meniti kariernya sebagai wirausahawan di Singapura. “Orang Indonesia itu harus berani. Kalau tidak berani mati saja,” katanya.

Johnny memang istimewa berani, karena berhasil menjadi diaspora Indonesia yang kini sudah menjadi pebisnis mapan di Singapura. Pada 1977, di usia belum genap 17 tahun, ia sudah merantau di Jakarta. Bekerja di sebuah pabrik logam produksi paku, mur, baut, dan sejenisnya, Johnny waktu itu mengaku terpaksa bekerja karena sulit mendapatkan pekerjaan yang layak.

Melihat sekeliling, Johnny pun tersadar. Teman-teman lain yang belajar menjadi salesman (pedagang) ternyata lebih menarik baginya. Ia pun memberanikan diri memulai bisnis alat perkantoran pada 1979.

Suara bising pabrik membuatnya jengah. Apalagi peralatan pelindung telinga waktu itu belum ada. Keberanian dikumpulkannya, hingga pada 1979 Johnny memulai bisnis stationary. Setelah berjalan beberapa lama, ia membuat lompatan besar, yakni mengambil barang dagangan langsung dari Singapura. “Tadinya tidak ada confident untuk ke Singapura,” katanya kepada Adistya Prabawati dari Gatra.

Setelah hampir 10 tahun berniaga mondar-mandir Singapura-Indonesia dan meraba-raba sistem bisnis di sana, ia pun mengembangkan usaha di bidang faksimil. Bisnis barunya ini lebih fokus pada jual-beli mesin faksimile bekas di Indonesia. Bisnis ini pula yang pada 1987 berhasil membuatnya memperoleh lisensi dari Telkom untuk membuka wartel. Johnny merupakan satu dari 13 pengusaha di Indonesia yang pertama kali mendapatkan lisensi itu.

Pada 1992, Johnny kembali membuat keputusan besar, yakni menetap dan membangun bisnis di Singapura. Sebab, waktu itu, sang istri tinggal di sana dan terkendala bahasa jika harus diboyong ke Indonesia. Keputusan itu rupanya didorong pula oleh iming-iming sukses berbisnis sewa mobil. Ia tertarik dan memulai usaha baru ini.

Berbekal pinjaman bank, ia membeli tiga mobil. Dalam tempo 10 tahun, ia mengembangkan usaha ini hinga memiliki 160 armada. Itu dimungkinkan karena Johnny dinilai sebagai pengusaha yang taat aturan, mendapat akreditasi A dari bank, sehingga mudah dapat referensi. Insting bisnisnya mendorongnya untuk ikut dalam tender operator taksi. Ia lolos dan menjadi satu-satunya orang Indonesia yang dipercaya Pemerintah Singapura untuk menjalankan bisnis taksi pada waktu itu.

Dari sinilah ia mulai bersosialisasi dengan konstitusi dan masyarakat Singapura. Hingga pada 2006, Johnny merealisasikan tawaran Pemerintah Singapura untuk menggunakan taksi dengan CNG (compressed natural gas). Uniknya, justru setelah berpuluh tahun jatuh bangun mencoba memasuki dunia bisnis, baru waktu itu hubungan Johnny terjalin secara lebih baik dengan Kedutaan Besar RI. “Sebelumnya, ya, hanya untuk perpanjang paspor dan pemilu,” katanya.

Johnny kini berencana kembali ke Indonesia setelah mengantongi izin BKPM untuk kontrak senilai US$ 35 juta-US$ 40 juta di bisnis properti. Memang terlambat, menurutnya, tetapi pria yang kini telah memiliki tujuh perusahaaan ini ingin turut merasakan dunia bisnis di Indonesia yang tengah berkembang pesat 15 tahun terakhir ini. Walau demikian, secara pribadi sebagai diaspora, ia tidak mengharapkan privilese. “Hanya, kalau bisa, pemerintah membuat paket investasi ekonomi yang menarik agar lebih banyak diaspora kembali berinvestasi di Indonesia.” katanya.

Wona Sumantri Perintis Kurikulum Silat di American University

Bocah berumur 6 tahun itu kembali mengintip bapaknya yang sedang berlatih Cimande di pekarangan rumah. Pencak silat khas Banten itu tampak lembut di mata si bocah. Lebih banyak menggunakan teknik tangan. Dia tertarik.

Tapi, jangan salah. Bocah itu bukan tengah berada di belahan mana pun di Provinsi Banten. Dia melihat sang Bapak berlatih di pekarangan sebuah rumah di Houston, Texas, Amerika Serikat. Tak disangka pula, kegiatan rutin menonton sang bapak berlatih pencak silat aliran Cimande ini kelak, 29 tahun kemudian, membawa bocah itu pada keberhasilannya memasukkan pencak silat sebagai salah satu kelas bidang olahraga di American University.

Dia adalah Wona Sumantri. Laki-laki yang lahir di Jakarta, 37 tahun lalu, ini telah meninggalkan Indonesia sejak kecil. Diboyong oleh sang Bapak bersama ibunya ke Amerika untuk urusan pekerjaan. Wona masih terlalu kecil untuk menyimpan banyak kenangan tentang Indonesia. Tapi, dia tak pernah lupa kegiatan yang dilakukan sang bapak setiap pagi: berlatih silat.

Semasa sekolah, ia ikut dalam komunitas pencak silat dan bergabung latihan yang diadakan KBRI. Ia rutin berlatih dan, beruntung, sebelumnya pun ia dilatih langsung oleh sang bapak. Wajar bila di usia 14 tahun, Wona dipercaya menjadi asisten pelatih. Di usia belia itu pula ia memilih tetap tinggal di tanah rantau sementara kedua orangtuanya pulang ke Indonesia. Ia mengaku masih malu mengakui Indonesia sebagai Tanah Airnya.

Berkat latihan kerasnya di sela-sela kerja serabutan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, di usia 19 tahun, ia sudah menjadi penanggung jawab pencak silat cabang Washington DC. Di luar itu, ia juga mendalami dunia teknologi informasi secara otodidak. Berbekal ijazah kursus, ia pun diterima bekerja pada sebuah perusahaan yang fokus ke IT support. Ia juga mengambil kelas malam untuk meraih gelar sarjana dan master atas biaya sendiri. “Di sana kita tidak perlu ijazah untuk mendapatkan pekerjaan, yang dinilai skill,” katanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s